Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Minggu & Hari Besar Tutup
INFO 1 : Pemesanan sebelum pukul 14.00 WIB akan dikirim pada hari yang sama. Apabila ada pemesanan setelah pukul 14.00 WIB akan di kirim keesokan harinya. Terima kasih atas perhatiannya.
Beranda » Artikel Terbaru » Budidaya Kentang Teknologi NASA

Budidaya Kentang Teknologi NASA

Diposting pada 21 April 2017 oleh Mba Seli

Budidaya Kentang – Kentang menjadi salah satu komoditi yang sangat penting karena permintaan kentang di pasaran semakin tinggi. Dengan pasar yang besar, petani kentang dituntut untuk menghasilkan produktivitas kentang yang tinggi pula. PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani untuk meningkatkan hasil panen kentang melalui Teknik Budidaya Kentang dengan baik melalui Teknologi NASA, untuk memperoleh produksi kentang dengan mengutamakan aspek Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian Lingkungan (K-3). Budidaya kentang menggunakan Pupuk Organik NASA merupakan suatu terobosan dalam menghasilkan panen kentang dengan kualitas terbaik.

Tanaman kentang dapat tumbuh subur pada lokasi yang berada di ketinggian 1000-3000 mdpl, dengan kondisi tanah yang gembur, remah dan kaya akan kandungan bahan organik dengan pH 5,8-7. Lahan harus terdapat drainase yang baik. Dibutuhkan curah hujan rata-rata 1500mm per tahun. Suhu lingkungannya yaitu sekitar 18-21ºC dengan kelembaban 80-90% serta memerlukan sinar matahari selama 9-10 jam per hari.

Teknik Budidaya Kentang

  1. Pembibitan

Gunakan umbi bibit kentang yang berasal dari umbi berkualitas unggul yang memiliki produksi dengan bobot 30-50 gram, sudah berumur 150-180 hari dan tidak terdapat cacat. Gunakan umbi yang berukuran sedang dengan 3-5 mata tunas dan hanya sampai pada generasi keempat. Setelah tunas tumbuh sekitar 2 cm, bibit telah siap ditanam. Apabila ingin menggunakan bibit dengan cara membeli dari toko pertanian, pilih bibit yang telah bersertifikasi dengan bobot sekitar 30-45 gram dan mempunyai 3-5 buah mata tunas. Proses penanaman kentang dapat melalui pembelahan atau tanpa pembelahan. Potong umbi menjadi 2-4 bagian sesuai dengan mata tunas. Umbi yang telah dipotong direndam terlebih dahulu menggunakan POC NASA dengan dosis 2-4 cc per liter selama 1-3 jam.

  1. Pembuatan Media Tanam

  • Tanah dibajak atau dicangkul dengan kedalaman 30-40 cm dan diamkan selama 2 minggu sebelum bedengan dibuat. Bedengan dengan lebar 70 cm dibuat 1 jalur tanaman, bedengan dengan lebar 140 cm dibuat 2 jalur tanaman dengan tinggi sekitar 30 cm. Lalu dibuat saluran pembuangan air dengan kedalaman 50 cm dan lebar 50 cm.
  • Tebarkan Natural Glio (yang telah dikembangbiakkan dengan pupuk kandang) secara merata ke bedengan. Dosis pemakaian Natural Glio yaitu 1-2 kemasan dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk tanah 1000 m². Didiamkan selama 1 minggu.
  1. Cara Menanam Kentang

Pemupukan Dasar

Pupuk makro yang digunakan yaitu SP-36 (200 kg per ha), Urea (200 kg per ha), KCL (75 kg per ha).

Pupuk organik yang digunakan yaitu POC NASA dengan dosis 1-2 botol untuk tanah 1000 m². POC NASA dicampur dengan air secukupnya. Untuk hasil optimal, gunakan Pupuk Organik Padat SUPERNASA. Ada dua alternatif cara penggunaan SUPERNASA yaitu :

  • Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA dicampur dengan 3 liter air dan jadikan sebagai larutan induk. Setiap 200 cc larutan induk dicampur dengan 50 liter air, siramkan merata ke bedengan.
  • Alternatif 2 : 1 sdm SUPERNASA dicampur dengan 10 liter air (1 gembor), untuk menyiram 10 meter bedengan.

POC NASA dan SUPERNASA disiramkan sebelum proses pemberian pupuk kandang. Pupuk kandang diberikan sebanyak 5-6 ton per hektar. Cara pemberiannya dapat dengan ditebar langsung atau dicampur dengan tanah bedengan.

Cara Penanaman

Jarak tanam bibit kentang disesuaikan dengan varietasnya, dapat menggunakan jarak 80 x 40 cm atau 70 x 30 cm. Dibutuhkan bibit sebanyak 1300-1700 kg per 1 ha tanah (dengan bobot umbi sekitar 30-45 gram). Proses penanaman dilakukan pada akhir musim hujan yaitu antara bulan April sampai Juni.

Pemeliharaan Tanaman

  • Penyulaman

Penyulaman dilakukan 15 hari setelah tanam, yaitu mengganti tanaman yang pertumbuhannya tidak baik dan mati.

  • Penyiangan

Penyiangan dilakukan minimal 2 kali selama proses penanaman. Yaitu 2-3 hari sebelum atau bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan tanah.

  • Pemangkasan Bunga

Khusus untuk varietas kentang berbunga, pemangkasan perlu dilakukan untuk mencegah terganggunya pembentukan umbi karena perebutan unsur hara.

  • Pemupukan Susulan

Pupuk Makro

Pupuk makro diberikan sekitar 10 cm dari batang tanaman. Dosis dan waktu pemberiannya adalah sebagai berikut :

ZA / Urea, dosis 300 kg per hektar diberikan saat 21 hari setelah penanaman. Dosis 150 kg per hektar pada 45 hari setelah tanam.

SP-36, dosis 250 kg per hektar diberikan saat 21 hari setelah penanaman.

KCL, dosis 150 kg per hektar diberikan saat 21 hari setelah penanaman dan dosis 75 kg per hektar diberikan saat 45 hari setelah tanam

Pemberian POC NASA

POC NASA diberikan mulai tanaman berumur 1 minggu sampai umur 10 atau 11 minggu selama penanaman berlangsung. Ada dua alternatif cara pemberian POC NASA yaitu :

  • Alternatif 1 : diberikan setiap 1 minggu sekali. 4 tutup botol per tangki atau 1 botol POC NASA (500 cc) per 200 liter air. Diberikan 8-10 kali selama penanaman.
  • Alternatif 2 : diberikan setiap 2 minggu sekali. 6 tutup botol per tangki atau 1,5 botol POC NASA (750 cc) per 200 liter air. Diberikan 5-6 kali selama penanaman.

Pemberian HORMONIK

HORMONIK dicampur dengan POC NASA dan digunakan saat proses penyemprotan. Dosis pemberiannya yaitu 1-2 tutup botol per tangki (10-15 liter air), atau 2-3 botol per 200 liter air.

Pengairan

Untuk pengairan lahan dilakukan rutin setiap 7 hari sekali. Pengairan dapat dengan mengairi selokan, penyiraman menggunakan gembor atau power sprayer.

 

Hama dan Penyakit Tanaman Kentang

  1. Hama

  • Ulat Grayak (Spodoptera Litura)

Hama ini akan memakan ulat daun hingga habis. Pengendalian dilakukan dengan memangkas daun yang menjadi sarang telur ulat, melakukan sanitasi lingkungan dan melakukan penyemprotan menggunakan Natural VITURA.

  • Kutu Daun (Aphis Sp)

Hama ini menghisap cairan pada batang tanaman yang dapat mengakibatkan tanaman terinfeksi. Pengendalian yang dilakukan adalah memangkas bagian tanaman yang telah terinfeksi, dan melakukan penyemprotan menggunakan Natural BVR dan Natural PESTONA.

  • Orong-Orong (Gryllotalpa Sp)

Hama ini menyerang bagian akar, umbi, tunas muda dan tanaman muda. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan mengocorkan PESTONA pada tanaman.

  • Penggerek Umbi (Phtorimae Poerculella Zael)

Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun berwarna merah tua dan terdapat benang berwarna abu-abu yang menjadi tempat pembungkus ulat. Jika umbi dibelah akan terdapat lubang karena sebagian umbi telah dimakan hama. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan mengocorkan PESTONA.

  • Trip (Thrips Tobaci)

Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun berwana putih, kemudian berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan awal biasanya pada ujung daun muda. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memangkas dan membuang daun yang telah diserang, kemudian melakukan penyemprotan menggunakan Natural BVR atau PESTONA.

  1. Penyakit

  • Penyakit Busuk Daun

Disebabkan oleh jamur Phytopthora Infestans. Gejala yang terlihat yaitu terdapat bercak kecil dengan warna hijau kelabu agak basah, yang lama kelamaan akan berubah warna menjadi coklat dan hitam, bagian tepinya berwarna putih, kemudian daun busuk dan mati. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dan menebarkan Natural Glio sejak awal penanaman.

  • Penyakit Layu Bakteri

Disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solanacearum. Gejala yang terlihat adalah daun muda, pucuk tanaman dan daun tua menjadi layu dan bagian bawahnya akan menguning. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah pemberian Natural Glio sejak awal penanaman.

  • Penyakit Busuk Umbi

Disebabkan oleh jamur Colleotrichum Coccodes. Gejala dari penyakit ini adalah daun menggulung, menguning menjadi layu dan kering. Penyakit ini menyebabkan umbi dan akar yang masih muda akan busuk. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah melakukan pergiliran tanaman, melakukan sanitasi lingkungan dan penggunaan bibit unggul. Pencegahannya yaitu menggunakan Natural Glio sejak awal penanaman.

  • Penyakit Fusarium

Disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Gejala yang terlihat adalah umbi di dalam tanah membususk dan tanaman menjadi layu. Infeksi serangan penyakit ini dapat masuk melalui luka-luka yang disebabkan faktor mekanis atau nematoda. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah menghindari agar tanaman tidak terluka saat penyiangan atau pendangiran. Pencegahannya yaitu menggunakan Natural Glio sejak awal penanaman.

  • Penyakit Bercak Kering (Early Blight)

Disebabkan oleh jamur Alternaria Solani. Jamur ini akan tumbuh dan berkembang di daerah yang kering dan hidup di sisa tanaman yang sakit. Gejala yang terlihat adalah terdapat bercak kecil pada daun yang menyebar tidak teratur, daun berwarna coklat tua yang kemudian menyebar ke daun muda. Pada umbi, permukaannya terdapat bercak gelap tidak teratur, terlihat ekring, berkerut dan keras. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergiliran tanaman, Sedangkan untuk pencegahannya menggunakan Natural Glio sejak awal tanam.

  1. Penyakit Karena Virus

Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas.

Gejala: yang dapat terlihat dari serangan virus tersebut adalah tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dapat melalui peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Belum ada pestisida yang dapat mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus, pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan PESTONA atau Natural BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum berhasil, gunakan pestisida kimia sesuai anjuran. tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml (0,5 tutup botol) per tangki (10-15 liter air). agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan.

 

Panen Kentang

Kentang dapat dipanen setelah tanaman berumur 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan (bukan karena serangan penyakit); batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.

Bagikan informasi tentang Budidaya Kentang Teknologi NASA kepada teman atau kerabat Anda.

Budidaya Kentang Teknologi NASA | PT.Natural Nusantara

Belum ada komentar untuk Budidaya Kentang Teknologi NASA

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Rp 200.000
Ready Stock / NSB
SIDEBAR